Sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Ia mungkin telah berlalu puluhan tahun, tetapi jejaknya tetap menjadi bagian dari ingatan sebuah bangsa.
Setiap akhir September, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada ingatan tentang peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang dalam narasi resmi negara pada masa Orde Baru dikenal luas sebagai G30S/PKI. Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik paling kelam sekaligus paling kompleks dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Mengenang sejarah bukan berarti hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Justru sebaliknya, sejarah seharusnya menjadi cermin agar generasi hari ini tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Di era digital, tantangannya menjadi berbeda. Jika dahulu informasi sejarah disampaikan melalui buku, sekolah, monumen, film dan cerita dari generasi ke generasi, kini informasi dapat beredar dalam hitungan detik melalui media sosial.
Potongan video, foto, narasi pendek hingga klaim sejarah dapat dengan mudah dikonsumsi tanpa terlebih dahulu diperiksa sumber dan konteksnya.
Karena itu, mengenang G30S seharusnya tidak berhenti pada seremoni atau pengulangan slogan. Generasi muda perlu diberikan ruang untuk mempelajari peristiwa tersebut secara kritis dengan merujuk pada sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ada bagian sejarah yang telah menjadi fakta terdokumentasi, tetapi ada pula bagian yang masih menjadi bahan perdebatan di kalangan sejarawan. Perbedaan interpretasi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghapus sejarah, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar bagaimana sebuah bangsa memahami masa lalunya.
Yang jauh lebih penting adalah mengambil pelajaran dari dampaknya.
Peristiwa politik yang penuh ketegangan dapat meninggalkan luka panjang bagi masyarakat. Karena itu, persatuan, penghormatan terhadap perbedaan pandangan dan penyelesaian konflik secara damai menjadi nilai yang semakin penting.
Pancasila juga tidak semestinya hanya diucapkan dalam upacara. Nilai-nilainya harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari: menghormati sesama, tidak mudah menyebarkan kebencian, menghargai perbedaan serta mengutamakan kepentingan bangsa.
Generasi muda juga memiliki tanggung jawab besar. Jangan sampai sejarah hanya menjadi nama sebuah film, tanggal dalam kalender, atau materi ujian sekolah.
Sejarah harus menjadi pengetahuan yang membuat seseorang lebih bijak dalam melihat masa kini.
Mengenang G30S bukan berarti menghidupkan kembali permusuhan masa lalu. Mengenang berarti memahami. Memahami berarti belajar. Dan belajar dari sejarah berarti memastikan tragedi serta kekerasan politik tidak kembali menjadi jalan penyelesaian persoalan bangsa.
Di tengah derasnya informasi digital, mungkin inilah makna paling penting dari mengenang sejarah: bukan mencari siapa yang harus dibenci, melainkan memahami apa yang harus dipelajari.
Sebab bangsa yang mengenal sejarah bukanlah bangsa yang terus hidup di masa lalu, melainkan bangsa yang menggunakan masa lalu sebagai pijakan untuk membangun masa depan.
Oleh: MEDIAGLOBAL.ID












