CERPEN
Bagian 1: Awal Berjumpa
Siang itu, matahari bersinar dengan begitu angkuhnya, menyengat bumi dan membuat udara di dalam bus kota terasa begitu pengap dan panas. Namun, bagi Desta, rasa gerah itu seolah tak terasa. Ia duduk bersama kawan-kawannya usai menonton Pentas Seni atau Pensi di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat.
Mereka memilih duduk di barisan dekat pintu belakang. Desta hanya diam, matanya mengamati satu per satu wajah penumpang, lalu beralih menatap jalanan aspal yang mulai lengang di bawah teriknya siang. Tangannya menggenggam erat besi penahan kursi di depannya, pikirannya melayang entah ke mana.
Bus itu melaju dengan santai, tidak terburu-buru, sesekali berhenti untuk menaikkan penumpang. Hingga di sebuah persimpangan, kendaraan itu mengerem mendadak. Pintu terbuka, dan langkah kaki seseorang naik ke atasnya.
Di sanalah ia melihatnya.
Seorang gadis muda membawa tas ransel besar, mengenakan seragam putih-biru yang masih terlihat begitu rapi dan mengkilap, persis seperti seragam yang dikenakan Desta dan teman-temannya. Hati kecil Desta berbisik, mungkin gadis itu akan masuk siang ke sekolah.
Gadis itu berjalan masuk, dan berhenti tepat di hadapan Desta. Ia berdiri mematung, menatap lurus ke arah kaca jendela bus, seolah dunia di luar sana jauh lebih menarik daripada keramaian di dalamnya.
Melihat gadis itu berdiri terguncang-guncang mengikuti irama bus yang melaju, sesuatu di hati Desta bergetar. Niat tulus untuk mempersilakan tempat duduk muncul begitu saja. Dengan keberanian yang entah datang dari mana, Desta pun bersuara.
“Silahkan duduk, Dek,” ucapnya lembut, sambil memberi isyarat tangan dengan sopan.
Gadis itu menoleh. Sepasang matanya bertemu dengan mata Desta. Sebuah senyum tipis yang menyimpan rasa malu terukir di bibirnya.
“Makasih, Kak,” jawabnya pelan, lalu duduk dengan hati-hati di kursi yang ditawarkan.
Suasana menjadi cair. Rasa canggung yang tadinya ada, perlahan luntur. Desta memberanikan diri memecahkan keheningan.
“Sekolah di mana, Dek?” tanyanya hati-hati, nada suaranya dibuat selembut mungkin, takut jika pertanyaannya justru membuat gadis itu illfeel atau menganggapnya menggoda.
Gadis itu menatap Desta, wajahnya tampak sedikit waspada namun tetap sopan. “SMPN… arah Ciledug, Kak,” jawabnya singkat, menyembunyikan nama sekolahnya dengan sebutan ‘rahasia’.
Desta tersenyum mendengarnya. “Oh, jauh ya ternyata. Berani banget lho naik bus sendirian. Emang nggak ada teman sekolah yang ikut naik bus ini?”
Gadis itu pun menunjuk ke arah depan dengan jarinya yang mungil. “Ada kok, Kak. Nanti di depan, di perempatan sana. Kebetulan teman sebangku aku juga nunggu di situ. Kita emang udah janji mau berangkat bareng tiap hari,” jelasnya, dan kali ini wajahnya sudah mulai terlihat lebih tenang, rasa takutnya perlahan hilang.
“Oh, gitu ya,” Desta mengangguk-angguk. “Ngomong-ngomong, dari tadi ngobrol asik, tapi kita belum kenalan lho. Boleh tahu nama kamu siapa?”

Gadis itu tersenyum ceria, membuat suasana di dalam bus seolah menjadi lebih cerah. “Andini, Kak. Kalau Kakak namanya siapa?”
“Desta,” jawabnya singkat namun tegas, lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Sentuhan tangan itu singkat, namun terasa begitu hangat, seolah menyatukan dua dunia yang sebelumnya asing.
“Kamu kelas berapa, Din?” tanya Desta lagi.
“Aku baru masuk nih, Kak. Kelas satu,” jawab Andini bangga. “Terus Kak Desta kelas berapa? Sekolahnya di mana juga?”
Desta tertawa kecil. “Oh, baru selesai Penataran P4 minggu lalu ya? Pantesan seragamnya masih kinclong banget. Kalau aku, Alhamdulillah kelas tiga, sebentar lagi lulus tahun ini. Nah, soal sekolah… rahasia juga dong,” candanya, menirukan gaya bicara Andini tadi.
Andini pun tertawa lepas, suaranya renyah terdengar manja. “Hahaha, iya deh. Jadi kita sepakat ya, sama-sama merahasiakan sekolah!” ucapnya sambil menatap seragam Desta yang warnanya sudah sedikit memudar, tanda sudah dipakai selama tiga tahun, berbeda dengan seragamnya yang masih baru mengkilap.
Perjalanan terus berlanjut. Penumpang silih berganti naik dan turun, hingga akhirnya bus itu kembali berhenti dan memuat beberapa orang lagi. Di antara mereka yang naik, ada sosok yang langsung disapa Andini dengan wajah berseri-seri. Itu adalah teman sebangkunya yang sudah dinanti sejak tadi.
Kebetulan sekali, seorang ibu paruh baya yang duduk di sebelah Andini turun, sehingga temannya itu bisa langsung duduk bersebelahan. Mereka pun asyik mengobrol membahas pelajaran sekolah.
Melihat Andini sudah ada teman mengobrol, Desta pun merasa tak ingin mengganggu. Ia pun mendekat sedikit.
“Aku geser ke belakang ya, Din. Ada kursi kosong di sana,” bisik Desta.
“Oh iya, Kak. Makasih banyak ya,” balas Andini manis.
“Sama-sama,” jawab Desta. Hanya dua kata itu, namun cara Desta menyebut nama ‘Andini’ terdengar begitu akrab, seolah mereka sudah berteman lama.
Desta pun kembali duduk di samping teman-temannya yang sejak tadi ia abaikan karena terlalu asyik berbincang dengan gadis baru itu. Rasanya bahagia, ada rasa hangat yang menggelitik di dadanya.
Tak terasa, bus itu pun sampai di sebuah halte. Desta dan kawan-kawannya turun, bermaksud mengambil motor mereka yang terparkir di dekat sekolah. Namun, langkah kakinya terhenti seketika saat menoleh ke belakang.
Andini juga turun di tempat yang sama.
Mata mereka bertemu. Keduanya sama-sama terbelalak, mulut sedikit terbuka namun tak ada suara yang keluar. Ternyata, mereka bersekolah di tempat yang sama! SMPN yang sama, tempat Desta menuntut ilmu selama hampir tiga tahun.
Dengan tangan mereka saling menunjuk satu sama lain, wajah mereka bercampur antara kaget, heran, dan rasa bersalah karena telah saling ‘membohongi’ soal lokasi sekolah tadi di dalam bus.
Mereka berjalan beriringan menuju gerbang sekolah dalam diam. Ribuan kata ingin terucap, namun semuanya tertahan di tenggorokan. Rasa gugup yang tadi hilang saat di dalam bus, kini kembali datang menghantam. Desta ingin menyapa, ingin berkata “Ternyata satu sekolah ya!”, tapi lidahnya terasa kelu. Begitu juga Andini, ia hanya bisa menunduk sambil menyembunyikan senyum malu di balik jilbab atau kerah bajunya.
Hingga akhirnya, di depan gerbang sekolah itu, jalan mereka pun terpisah. Desta ke arah parkir motor, Andini masuk ke halaman sekolah.
Padahal, saat di dalam bus tadi mereka bisa begitu akrab. Tapi saat kaki menginjakkan kaki di tanah sekolah, tembok rasa sungkan itu kembali tinggi menjulang.
Bus itu telah menjadi saksi bisu pertemuan pertama mereka. Sebuah pertemuan singkat yang meninggalkan kesan mendalam, sebuah rasa yang mulai tumbuh di antara dua hati yang asing, namun kini terikat oleh satu tempat yang sama.
Dan di sanalah, cerita itu baru saja dimulai… (bersambung)
Catatan: Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur cerita, itu hanyalah kebetulan semata. Cerita ini dibuat untuk tujuan hiburan semata, tanpa maksud menyinggung pihak manapun maupun menimbulkan kerugian lahir dan batin. Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.












