JAKARTA, MEDIAGLOBAL.ID – Proyek Mass Rapid Transit (MRT) Lintas Timur–Barat Cikarang–Balaraja mulai memasuki tahap persiapan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini mulai melakukan pendataan awal lahan yang berada di koridor Thamrin–Kwitang, Jakarta Pusat.
Pendataan tersebut menjadi bagian dari tahapan persiapan pengadaan tanah untuk pembangunan MRT Koridor Thamrin–Kwitang yang nantinya terintegrasi dalam jaringan MRT Lintas Timur–Barat.
Biro Pemerintahan Setda Provinsi DKI Jakarta melalui tim persiapan pengadaan tanah mulai mendatangi sejumlah lokasi dan bangunan di kawasan Jalan Kramat Kwitang serta Jalan Kebon Sirih.
Ketua Subkelompok Penanganan Pengaduan Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Biro Pemerintahan Setda DKI Jakarta, Ebron Leonard Sirait, mengatakan pendataan dilakukan terhadap pihak-pihak yang berpotensi terdampak pembangunan.
“Pendataan awal ini dilakukan oleh Tim Persiapan Pengadaan Tanah Pembangunan MRT Koridor Thamrin–Kwitang kepada pihak-pihak yang rencananya terdampak pembangunan,” ujar Ebron dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (20/9/2026).
Sebelum pendataan dilakukan, petugas terlebih dahulu memberikan sosialisasi mengenai rencana pembangunan kepada pihak-pihak yang berada di sepanjang lokasi yang diproyeksikan menjadi bagian dari trase MRT.
Untuk koridor Thamrin–Kwitang, jalur yang dipersiapkan memiliki panjang sekitar 1,76 kilometer.
Bagian dari Proyek MRT Timur–Barat
Koridor Thamrin–Kwitang merupakan bagian dari proyek MRT Lintas Timur–Barat yang dirancang menghubungkan kawasan Tomang hingga Medan Satria, Bekasi, sebagai bagian dari jaringan yang lebih luas menuju Cikarang dan Balaraja.
PT MRT Jakarta (Perseroda) juga tengah melakukan proses lelang sejumlah paket pekerjaan konstruksi untuk proyek tersebut.
Pembangunan mencakup jalur bawah tanah dari kawasan Bank Indonesia, Thamrin–Kebon Sirih hingga Kwitang–Senen, serta pembangunan depo di Jakarta Timur.
Pada Fase 1 Tahap 1, proyek MRT Timur–Barat mencakup rute sekitar 24,5 kilometer dari Tomang hingga Medan Satria, ditambah akses menuju depo di Rorotan sepanjang sekitar 5,9 kilometer.
Jalur tersebut akan menggunakan kombinasi konstruksi bawah tanah dan layang. Bagian bawah tanah direncanakan membentang dari Roxy hingga Galur, sementara jalur layang berada di ruas Tomang–Grogol serta Cempaka Baru–Ujung Menteng.
Proyek MRT Lintas Timur–Barat ditargetkan mulai beroperasi pada 2031, dengan proyeksi melayani sekitar 284.000 penumpang per hari.
Pembangunan jaringan MRT tersebut mendapat dukungan pembiayaan melalui pinjaman Japan International Cooperation Agency (JICA). Kerja sama tersebut telah dimulai sejak 2009 dan direncanakan berlangsung hingga 2034.
Sementara itu, pembangunan MRT Koridor Utara–Selatan Fase II A juga terus berjalan. Perpanjangan jalur menuju Jakarta Kota disebut telah mencapai sekitar 63 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2029.
Dengan dimulainya pendataan lahan di Thamrin–Kwitang, proyek MRT Timur–Barat kini memasuki tahapan persiapan yang menjadi bagian penting sebelum pembangunan fisik dilakukan.












