Oleh: Redaksi
Pujian adalah sesuatu yang menyenangkan. Hampir semua orang senang dipuji karena di dalamnya ada pengakuan, penghargaan, dan rasa dianggap penting.
Namun, seperti halnya obat, pujian juga memiliki dosis. Terlalu sedikit mungkin tidak terasa, tetapi terlalu banyak justru bisa menjadi racun.
Pujian yang proporsional mampu membangkitkan semangat. Ia mendorong seseorang untuk bekerja lebih baik, memperbaiki kekurangan, dan mempertahankan prestasi. Masalah muncul ketika pujian berubah menjadi sanjungan tanpa batas.
Di titik itu, pujian bisa memabukkan.
Seseorang yang terus-menerus disebut hebat, paling benar, paling berjasa, atau paling layak dipuji, lama-lama bisa kehilangan kemampuan untuk mendengar kritik. Cermin realitas perlahan digantikan oleh suara-suara yang hanya menyenangkan telinga.
Yang lebih berbahaya, tidak semua pujian lahir dari ketulusan.
Ada pujian karena seseorang memang pantas mendapatkannya. Tetapi ada pula pujian karena kepentingan. Memuji untuk mendapatkan perhatian, kedekatan, jabatan, keuntungan, atau sekadar mencari posisi aman.
Di sinilah istilah “pujian tulus” dan “pujian bulus” menjadi relevan.
Pujian tulus tidak takut melihat kekurangan. Sebaliknya, pujian bulus cenderung hanya mengatakan apa yang ingin didengar. Ia membangun rasa percaya diri, tetapi sekaligus bisa mematikan kewaspadaan.
Karena itu, orang yang dipuji justru harus lebih berhati-hati daripada orang yang dikritik.
Kritik membuat kita bercermin. Pujian membuat kita merasa sudah sempurna.
Padahal, tidak ada manusia, pemimpin, lembaga, maupun organisasi yang selalu benar dan selalu hebat. Di balik keberhasilan tetap ada ruang untuk koreksi.
Maka, jangan terlalu cepat mabuk oleh pujian. Terimalah apresiasi dengan rendah hati, tetapi jangan pernah kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan: Mengapa saya dipuji? Siapa yang memuji? Dan apa yang sebenarnya diinginkan setelah pujian itu?
Sebab pada akhirnya, pujian bisa menjadi vitamin bagi mental, tetapi pujian yang berlebihan bisa menjadi racun bagi akal sehat.
Ada pujian yang menguatkan langkah. Namun, jangan lupa, ada pula pujian yang justru sedang menyiapkan kita untuk jatuh.













