ILUSTRASI
JAKARTA, MEDIAGLOBAL.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif pada triwulan II-2026. Di tengah dinamika ekonomi global, ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Semester I-2026 mencapai 5,45 persen, disertai penurunan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, mengatakan capaian tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih terjaga dengan baik, meski pertumbuhan pada kuartal II sedikit lebih rendah dibanding kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen.
“Perekonomian Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan, sehingga secara kumulatif Semester I-2026 mencapai 5,45 persen,” ujar M. Edy Mahmud.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang memberikan kontribusi sebesar 2,67 persen. Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi menyumbang 2,06 persen, konsumsi pemerintah 1,07 persen, sedangkan net ekspor memberikan kontribusi negatif sebesar 0,78 persen.
Menurut Edy, meningkatnya konsumsi masyarakat tidak terlepas dari momentum libur panjang dan hari besar keagamaan yang mendorong aktivitas belanja serta mobilitas masyarakat.
“Pertumbuhan konsumsi rumah tangga didorong oleh meningkatnya aktivitas masyarakat pada momentum libur dan hari besar keagamaan, terutama pada sektor restoran, hotel, transportasi, dan komunikasi,” jelasnya.
BPS mencatat subkelompok restoran dan hotel menjadi penyumbang pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi dengan kenaikan 6,47 persen, diikuti sektor transportasi dan komunikasi yang tumbuh 5,71 persen.
Selain pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, kondisi sosial juga menunjukkan perbaikan. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat 22,93 juta jiwa, turun sekitar 430 ribu orang dibandingkan September 2025 yang mencapai 23,36 juta jiwa.
Secara persentase, tingkat kemiskinan turun menjadi 8,07 persen, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 8,25 persen.
“Jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat sebanyak 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari total penduduk. Angka ini menurun dibandingkan September 2025,” kata Edy.
BPS juga mencatat garis kemiskinan pada Maret 2026 sebesar Rp669.235 per kapita per bulan, dengan komoditas makanan masih menjadi penyumbang terbesar pembentukan garis kemiskinan, yakni 74,70 persen.
“Komoditas makanan masih menjadi penyumbang terbesar dalam pembentukan garis kemiskinan, dengan kontribusi mencapai 74,70 persen,” ungkapnya.
Di sektor ketenagakerjaan, hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 menunjukkan jumlah angkatan kerja meningkat menjadi 155,41 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 148,19 juta orang telah bekerja, sementara jumlah pengangguran turun menjadi 7,22 juta orang.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga mengalami penurunan menjadi 4,65 persen, atau turun 0,03 persen poin dibandingkan Februari 2026.
“Jumlah angkatan kerja pada Mei 2026 meningkat menjadi 155,41 juta orang, sementara tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,65 persen,” terang Edy.
Ia menambahkan, peningkatan jumlah penduduk bekerja menunjukkan pasar tenaga kerja nasional masih mengalami perbaikan seiring pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga.
“Jumlah penduduk bekerja juga bertambah menjadi 148,19 juta orang, menunjukkan pasar tenaga kerja masih mencatat perbaikan,” tambahnya.
Meski demikian, BPS mengingatkan bahwa tantangan ke depan masih cukup besar. Stabilitas ekonomi perlu terus dijaga agar pertumbuhan yang telah dicapai mampu memberikan dampak yang lebih luas terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Data Semester I-2026 menunjukkan ekonomi nasional tetap tumbuh positif, diikuti penurunan tingkat kemiskinan dan membaiknya kondisi ketenagakerjaan. Tantangan ke depan adalah menjaga momentum pertumbuhan agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat luas,” pungkas M. Edy Mahmud.












