Warung Madura Bak Jamur di Musim Penghujan, Monopoli Ekonomi Baru, Warga Lokal Menjerit

waktu baca 3 menit
Minggu, 22 Sep 2024 09:28 97 Redaksi

KABUPATEN TANGERANG-MEDIAGLOBAL.ID-Hampir setiap gang dan pengkolan bahkan setiap 50 meter, bahkan ada yang saling berdampingan terdapat warung klontongan yang sering disebut dengan warung madura.

Warung Madura mulai menjamur sejak awal tahun 2018, warung serba lengkap ini menyediakan berbagai kebutuhan pokok masyarakat dan berbagai kebutuhan lainnya, semua ada disini. Keberadaannya sering menjadi kontroversi karena berjualan non stop alias 24 Jam,

hal inilah yang sempat menjadi perselisihan dengan Perusahaan Ritel seperti Alfamart dan Indomaret, karena keberadaan Warung Madura dianggap sebagai kompetitor dalam menarik Konsumen. Karena di Warung Klontongan ini dijual serba murah. Ada perbedaan yang signifikan dengan yang dijual di Perusahaan Ritel Alfa dan Indomaret.

Keberadaannya dibutuhkan warga karena bisa memenuhi kebutuhan cepat masyarakat karena 24 Jam Non stop, namun bagaimana dengan warung warung lokal yang bermodalkan kecil, dampak nya sangat berpengaruh, dampak lain adalah tak mampu bersaing dalam harga dan bermodalkan terbatas resikonya adalah tutup warung alias bangkruft.

Jumadil Qubro, Pemerhati Sosial dan Lingkungan mengemukakan pendapatnya ada segi positif dan ada segi negatif dengan berdirinya warung warung madura di satu gang secara berjejer dengan jarak berdekatan.

Menurutnya, modal mereka adalah satu Vendor,  para penjaga warung di upah untuk biaya sewa warung sudah tanggung jawab Vendor. Keuntungan dengan sistem bagi hasil dengan kesepakatan yang sudah disepakati bersama.

Namun, secara masiv tanpa memperhatikan letak dan waktu apalagi keadaan warung lokal yang bermodalkan kecil, keberadaan mereka tanpa toleransi menggerus warung warung kecil disekitarnya.

‘Ini model  monopoli ekonomi di tingkat bawah, apakah pemerintah memperhatikan atau tidak dampak siginifikan terhadap usaha usaha lain yang bermodalkan kecil,  mereka berguna namun keberadaan mereka tak memperhatikan warung disebelahnya, digencet kanan kiri kadang ada di gang gang kecil, ini kan gaya ekonomi liberal, yang sikat warung-warung yang kecil, dan warung warung mereka pun hanya dijaga oleh etnis tertentu saja, ini tentu riskan, ekonomi monopoli yang tidak sadar menjajah ekonomi lokal,” ujarnya.

Warung warung Madura keberadaan mereka antara satu dengan yang lainnya mereka tidak berkompetitor karena kemana pun pembeli datang, keuntungan akan masuk dalam satu Vendor.

“Mudah-mudahan ini tidak menjadikan kesenjangan sosial karena Usaha ekonomi yang secara tidak sadar telah terjadi monopoli, liberal yang terbungkus atas nama warung rakyat kecil,”tambah Jumadil Qubro.

Tidak ada yang salah dalam setiap usaha, namun toleransilah yang bisa menguatkan bangsa ini, jika disitu sudah ada warung lokal, janganlah warung madura ini menggencet kanan kiri sehingga pembeli tercegat oleh warung-warung Madura.

“Bangunlah ekonomi kerakyatan yang berdasarkan kekeluargaan berFalsapahkan Pancasila bukan ekonomi liberal, tanpa tendeng aling aling,” tutup Jumadil Qubro.

Menurut pemantauan dan wawancara dari para pedagang madura

Warung Madura memiliki beberapa sistem yang menjadi ciri khasnya, di antaranya:

Sistem bagi hasil

Pemilik dan karyawan warung Madura menggunakan sistem bagi hasil, bahkan hingga 50% keuntungan untuk karyawan.

Sistem kerja sama

Warung Madura umumnya bekerja sama dengan distributor untuk mendapatkan harga yang murah. Warung Madura juga saling bekerja sama untuk mendapatkan barang dagangan, sistem penggajian, dan sistem merekrut pegawai.

Sistem pencatatan

Warung Madura mencatat produk yang masuk dan keluar untuk mempermudah restock barang dan pencatatan keuntungan.

Sistem pemilihan lokasi

Warung Madura biasanya memilih lokasi yang strategis, bahkan berdekatan dengan minimarket dan warung kecil lainnya.

Sistem penggajian

Warung Madura biasanya merekrut pegawai dari keluarga, teman, atau tetangga pemilik.

Warung Madura juga memiliki ciri khas lainnya, yaitu: 

-Penjualnya biasanya laki-laki dan berusia antara 26-55 tahun.

. Penjual laki-laki biasanya tidur di dalam warung dengan beralaskan tikar ketika siang hari.

-Barang dagangannya cukup lengkap

Diakhir pendapatnya, Jumadil Qubro mengharapkan para Vendor agar tetap menjaga toleransi agar tidak mendirikan warung madura berdempetan di jalur jalur dan gang gang penduduk lokal yang konsumennya terbatas hanya tetangga dan yang singgah saja,” harapnya

dan tersedia selama 24 jam.  (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA