JAKARTA, MEDIAGLOBAL.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mendeteksi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) dalam kategori Frequent (FRQ) di tiga wilayah Indonesia untuk periode akhir September hingga awal Oktober 2026.
Berdasarkan informasi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus yang diperbarui BMKG, potensi kategori FRQ berlaku pada periode 25 September hingga 1 Oktober 2026. Tiga wilayah yang masuk kategori tersebut yakni Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai, Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, dan Sumatera Barat.
Kategori FRQ menunjukkan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus dengan cakupan spasial maksimum lebih dari 75 persen. Angka tersebut merupakan cakupan wilayah yang berpotensi tertutup pertumbuhan awan Cumulonimbus, bukan berarti kemungkinan hujan mencapai 75 persen.
Kemunculan zona FRQ ini menjadi perhatian karena pada periode prakiraan sebelumnya, 24–30 September 2026, BMKG tidak mencatat tiga wilayah tersebut sebagai zona FRQ pada informasi yang menjadi rujukan sebelumnya.
BMKG menjelaskan, awan Cumulonimbus merupakan jenis awan konvektif yang dapat berkembang secara vertikal dan berpotensi menghasilkan kondisi cuaca signifikan, termasuk hujan lebat, petir dan angin kencang.
Dalam prakiraan sepekan periode 25 September–1 Oktober 2026, BMKG menyebut kondisi kering masih mendominasi sebagian wilayah Indonesia. Namun, dinamika atmosfer regional dan kondisi lokal tetap dapat memicu pertumbuhan awan hujan di sejumlah daerah.
“Meskipun kondisi kering masih dominan, dinamika atmosfer tetap dapat mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah lainnya,” demikian penjelasan BMKG dalam prakiraan cuaca sepekan yang diterbitkan 25 September 2026.
BMKG mencatat, pada 21–23 September 2026, hujan lebat juga sempat terjadi secara lokal. Curah hujan tercatat mencapai 94 milimeter per hari di Sumatera Barat, 62,5 milimeter per hari di Aceh, 55 milimeter per hari di Sumatera Utara dan 54 milimeter per hari di Papua Tengah.
Selain zona FRQ, BMKG juga memprakirakan pertumbuhan Cumulonimbus kategori Occasional (OCNL) dengan cakupan spasial maksimum antara 50–75 persen di sejumlah wilayah daratan maupun perairan.
Wilayah yang masuk kategori OCNL antara lain Aceh, Bengkulu, Jambi, Lampung, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara. Di Pulau Jawa, potensi OCNL mencakup Jawa Barat dan sejumlah wilayah lainnya, sedangkan di Kalimantan dan Indonesia bagian timur juga terdapat sejumlah wilayah yang masuk dalam prakiraan tersebut.
BMKG juga memprakirakan kondisi atmosfer yang mendukung peningkatan pertumbuhan awan hujan pada sejumlah wilayah. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan Gelombang Rossby Ekuatorial diperkirakan berperan terhadap dinamika atmosfer pada periode tersebut.
Menurut BMKG, aktivitas fenomena atmosfer tersebut dapat memicu pertemuan maupun perlambatan angin yang kemudian meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah yang dilaluinya.
Untuk periode 25–27 September 2026, BMKG memprakirakan cuaca Indonesia secara umum didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, hujan dengan intensitas sedang berpotensi meningkat di sejumlah wilayah, termasuk Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat dan sejumlah wilayah Kalimantan serta Papua.
BMKG juga menetapkan sejumlah wilayah yang perlu mewaspadai potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Untuk periode tersebut, kategori Siaga disebut berpotensi terjadi di Sumatera Utara, Bengkulu dan Papua Tengah, sementara angin kencang berpotensi terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua Selatan.
Sementara untuk periode 28 September–1 Oktober 2026, potensi hujan intensitas sedang masih dapat terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu serta sejumlah wilayah Kalimantan dan Papua.
BMKG memprakirakan potensi hujan lebat hingga sangat lebat kategori Siaga pada periode tersebut di Sumatera Barat dan Papua Pegunungan, sedangkan potensi angin kencang perlu diwaspadai di Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua Selatan.
Di sisi lain, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan perubahan cuaca meskipun sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kondisi musim kemarau dan kering.
Masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. BMKG mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar.
“Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta kanal informasi resmi BMKG,” demikian imbauan lembaga tersebut.
BMKG menegaskan bahwa prakiraan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus dapat berubah mengikuti perkembangan dinamika atmosfer. Karena itu, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, pelaku pelayaran dan penerbangan, serta pihak terkait lainnya diimbau mengikuti pembaruan informasi cuaca secara berkala.
Dengan munculnya kembali zona FRQ di tiga wilayah, masyarakat di kawasan Sumatera Barat dan perairan barat Sumatera perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat berlangsung cepat, terutama ketika pertumbuhan awan konvektif berkembang secara signifikan.












