Budaya

Kelenteng Dewi Kwan Im 10 Ulu Palembang Ramai Dikunjungi Wisatawan Lokal Dan Manca Negara Untuk Memperingati Kwan Im Po Sat

×

Kelenteng Dewi Kwan Im 10 Ulu Palembang Ramai Dikunjungi Wisatawan Lokal Dan Manca Negara Untuk Memperingati Kwan Im Po Sat

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG MEDIAGLOBAL.ID — Kota Palembang, sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, tak hanya kaya akan sejarah, namun juga budaya dan kerukunan antarumat beragama. Beragam tempat ibadah seperti masjid, kelenteng, dan gereja tersebar di berbagai penjuru kota dengan arsitektur unik — dari klasik, modern, hingga minimalis — menunjukkan harmoni kehidupan beragama yang damai dan saling menghormati. Dua kawasan besar, Seberang Ulu dan Seberang Ilir, dipersatukan oleh ikon Kota Palembang, yakni Jembatan Ampera yang melintasi Sungai Musi nan legendaris.

Di sisi lain, modernitas kota ini juga terlihat dari keberadaan kompleks olahraga Jakabaring Sport City (JSC) yang dilengkapi infrastruktur mutakhir seperti LRT, memfasilitasi event berskala nasional hingga internasional. Palembang bahkan pernah menjadi tuan rumah PON 2004, SEA Games 2011, dan Asian Games 2018. Selain itu, kota ini juga menyimpan banyak bangunan cagar budaya dan menawarkan beragam kuliner khas yang menggugah selera wisatawan lokal maupun mancanegara.

Salah satu destinasi religi yang ramai dikunjungi wisatawan adalah Kelenteng Dewi Kwan Im 10 Ulu, Palembang. Suasana di kelenteng ini selalu meriah dengan lantunan musik karaoke dan pertunjukan Blass Musik Jidor, menciptakan atmosfer yang ceria dan penuh semangat bagi para pengunjung.

Pada Minggu, 13 Juli 2025, tim Media Global ID berkesempatan mengunjungi Kelenteng Chandra Nadi (Soei Goeat Kiong) yang juga dikenal sebagai Kelenteng Dewi Kwan Im. Tempat ibadah umat Tri Dharma ini dipadati pengunjung sejak pagi hingga malam. Mereka datang tidak hanya dari Palembang, tetapi juga dari berbagai kota besar di Indonesia serta negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong.

Di malam hari, suasana kelenteng tampak semakin magis dengan ratusan lampion merah yang tertata rapi menghiasi pelataran. Sinar lampu yang romantis memantul ke permukaan Sungai Musi, menyatu indah dengan pemandangan Jembatan Ampera yang berhiaskan cahaya warna-warni — sebuah panorama malam yang memukau, seperti dalam lagu legendaris “Palembang di Waktu Malam (Mutiara yang Hilang)” dari grup musik Golden Wing’s, ciptaan almarhum Karel Simon.

Salah satu pengunjung, Atek Liem King, warga Palembang, saat diwawancarai oleh awak media mengungkapkan, “Kelenteng ini telah ada sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam hingga era kolonial Belanda. Dibangun oleh para perantau Tionghoa yang saat itu belum memiliki tempat ibadah tetap,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa menurut penelitian yang tertuang dalam skripsi berjudul “Makna Simbolik Tradisi Sembahyang bagi Pemeluk Ajaran Tri Dharma” oleh Gustyn Ningrum, usia kelenteng ini diperkirakan mencapai 300–400 tahun. Kelenteng Chandra Nadi atau Soei Goeat Kiong merupakan tempat peringatan terhadap Kwan Im Po Sat (Avalokitesvara Bodhisattva) sebagai bentuk pencapaian kesempurnaan dalam spiritualitas.

Kelenteng Dewi Kwan Im kini tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata religi dan budaya yang mampu menarik hati banyak wisatawan, baik domestik maupun internasional.

Pewarta: Mr. Wancik.AN.,BE.
Kepala Biro Kota Palembang, Wakaperwil Sumsel,
Anggota Resmi PWI Sumsel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *